Rabu, 23 Oktober 2013

TAWURAN MERUGIKAN DIRI SENDIRI DAN ORANG LAIN




Sebanyak 16 penumpang bus PPD 213 jurusan Kampung Melayu - Grogol terkena air keras yang dilempar pelajar saat tawuran di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur, Jumat (4/10) pagi.

Bukan hanya mengalami luka bakar, sebagian korban juga ada yang terkena mata yang bisa mengakibatkan kebutaan. Seluruh korban air keras kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Premier Jatinegara.

Tawuran pelajar di sekitar Jalan Jatinegara Barat dan Matraman memang kerap terjadi. Namun tawuran biasanya terjadi saat jam pulang sekolah dengan saling lempar batu.

BERIKUT USAHA PEMERINTAH UNTUK MENCEGAH TAWURAN PELAJAR
Maraknya aksi tawuran pelajar di ibu kota membuat prihatin banyak pihak. Berbagai upaya pun terus dilakukan untuk meminimalisir aksi tawuran pelajar di ibu kota. Salah satunya seperti dengan mengumpulkan 1.000 pelajar di Balai Komando Kompleks Kopassus, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (23/10).

Ke-1.000 pelajar yang dikumpulkan terdiri dari 200 pelajar SMP, 400 pelajar SMA dan 400 pelajar SMK. Mereka dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Polda Metro Jaya, dan Kopassus.

Ass Intel Kopassus, Kolonel Richard Tampubolon mengatakan, sudah saatnya pelajar menghentikan aksi tawuran di Jakarta. Karena hal itu hanya akan merugikan semua pihak. "Pelajar juga jangan terpengaruh oleh hal apa pun yang berujung pada tawuran," ujar Richard, Rabu (23/10).

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Taufik Yudi Mulyanto, menambahkan, Jakarta harus bebas dari tawuran pelajar dan tindak kekerasan. Setiap pelajar harus saling menciptakan suasana kondusif agar tawuran tak terjadi lagi. "Selain mendapatkan pengarahan tentang bahaya tawuran pelajar, mereka juga dapat wawasan tentang berlalulintas," kata Taufik Yudi Mulyanto.

Kasubdit Dikyasa Polda Metro Jaya, AKBP Marsinem menuturkan, para pelajar yang membawa kendaraan pribadi ke sekolah harus tertib berlalulintas. Karenanya melalui pertemuan ini, pihaknya memberikan edukasi tentang cara berkendara atau berlalulintas yang baik. "Tentunya siapapun mereka, seorang pengendara harus tertib dan menaati rambu lalu lintas. Karena melanggar sedikit, dapat membahayakan diri dan pengendara lain dan bisa berakibat fatal,"  kata Warsinem.




PENDAPAT SAYA :
Tawuran terjadi karena konflik yang sepele, biasanya karena 1 orang yang memprovokasi teman-temannya agar menyerang sekolah lain. Itu harusnya tidak terjadi bila pelajar mendapat pendidikan moral yang baik dirumah maupun disekolah. Artikel diatas juga sudah memperlihatkan Pemerintah sudah berusaha mengasih pengarahan kepada pelajar itu hal yang sangat positif. Peran lingkungan sangat mempengaruhi sifat tercela tersebut. Solusinya yaitu memperketat keamanan ditempat yang sering terjadi tawuran pelajar.    

Rabu, 16 Oktober 2013

BULLYING DI KALANGAN REMAJA




Manusia tentu tidak akan pernah lepas dalam hal bersosialisasi satu dengan yang lain. Dalam praktek bersosialisasi tentu akan ada hal yang positif begitu juga hal yang negatif.

"Adapun masyarakat adalah suatu kesatuan kehidupan sosial manusia yang menempati wilayah tertentu, yang keteraturannya dalam kehidupan sosialnya telah dimungkinkan karena memiliki pranata sosial yang telah menjadi tradisi dan mengatur kehidupannya."

          Tentunya terdapat nilai- nilai,sistem, tata cara, ataupun norma tidak tertulis yang sudah menjadi budaya maupun tradisi dikalangan masyarakat kita.

          Tetapi apa yang terjadi apabila nilai- nilai,sistem, tata cara, ataupun norma tidak tertulis tersebut disalahgunakan atau disalahartikan? Sebagai contoh yang sudah sangat melekat pada masyarakat kita dan merupakan contoh yang paling sederhana adalah tradisi budaya TELAT. Kenapa banyak yang menyebutnya "Budaya"?? seharusnya kita malu apabila ada orang berkata "Ah, dasar budaya telat!", padahal telat merupakan KEBIASAAN BURUK yang masih bisa kita ubah. Banyak orang berpikir bahwa "telat" itu biasa saja dan akibatnya menjadi sebuah rutinitas dalam kesehariannya. Hal seperti ini dapat merugikan diri kita sendiri dan tentunya orang lain di sekitar kita. Apa yang seseorang lakukan, secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi orang lain di sekitarnya.
Kemudian contoh lainnya yang akan dibahas disini, adalah rusaknya sistem pergaulan yang ada dikalangan remaja saat ini.

Sering kali kita mendengar berita tentang jual beli narkoba, seks bebas, tawuran, dan BULLYING. Tentunya kita sudah tahu bahwa tidak sedikit pelaku maupun korban yang masih remaja dan bahkan hal itu sudah merupakan "hal biasa" bagi beberapa orang yang tidak mau berpikir kritis. Sebenarnya mengapa hal itu terjadi? Apa faktor penyebab mereka melakukannya? Apa hal ini merupakan kesalahan orangtua yang tidak menanamkan nilai moral dengan tegas? Apa karena faktor lingkungan yang tidak kondusif sehingga para remaja itu terpengaruh ke jalan yang tidak seharusnya? Atau ada faktor lain?
  
Pada kesempatan kali ini saya akan fokus kedalam topik penindasan atau yang lebih dikenal dengan istilah yang tidak lain adalah "BULLYING". Bullying, menurut BullyFree, merupakan bentuk perilaku yang bersifat intens, menyakiti, mengancam, dan dilakukan berulang-ulang. Bullying merupakan bentuk ketidakseimbangan, yaitu adanya usaha mendominasi dari suatu pihak dan bisa diartikan sebagai mistreatment atau penganiayaan.
 Bullying sudah merasuk kedalam pergaulan di masyarakat dan menjadi "SISTEM" yang tidak benar dengan sendirinya. Tindakan Bullying bisa dilakukan melalui kata- kata maupun melalui kontak fisik dan tentunya hal itu menjerumus ke arah kekerasan. Bullying secara fisik tidak hanya terjadi di kalangan mahasiswa maupun siswa SMA , seperti yang dulu pernah kita dengar tentang berita tindak kekerasan di salah satu institut maupun di salah satu SMA favorit, tetapi hal ini bahkan sudah terjadi di kalangan murid SMP maupun SD jika kita mau telusuri lebih lanjut. Padahal pada kisaran usia mereka, seharusnya mereka belajar dan mendapat nilai moral yang baik dari sekitarnya , bukan menerima tindakan/sikap yang tidak seharusnya dari lingkungan sosial mereka karena hal ini akan berpengaruh kedepannya. Jika saat kecil ia mendapat tindakan bullying dan hal itu tidak segera diatasi, kedepannya anak tersebut berpotensi untuk menjadi pelaku bullying karena adanya niat untuk membalas perilaku yang dulu ia terima atau bisa jadi hal itu menjadi trauma dan tentunya akan berpengaruh terhadap karakternya dan cara ia bersikap terhadap orang disekitarnya. Bullying dapat terjadi di mana saja, sekolah, universitas, rumah, tempat kerja, dsb.  Namun pusat perhatian terbesar adalah di lingkungan pendidikan
Sekolah merupakan tempat menuntut ilmu dan sosialisasi. Di sekolah, setiap murid akan menghadapi teman-teman yang sebaya, lebih muda, dan teman yg lebih tua. Sekolah merupakan tempat terjadinya sosialisasi antarindividu dengan individu lainnya. Akan tetapi, dalam sosialisasi, kebanyakan dari mereka belum dapat memahami temannya satu sama lain, sehingga timbullah kesalahpahaman satu sama lain yang lalu diiringi denagn perkelahian, intimidasi, pemalakan, pengucilan, dan lainnya. Hal yang seharusnya tidak terjadi di kalangan pelajar kini menjadi tradisi yang biasanya dilakukan senior kepada junior. Fenomena ini dapat disebut Bullying, yakni kekerasan yang dilakukan senior kepada junior. Hal seperti ini sering kali dibiarkan, dan ujung-ujungnya "diwariskan" ke tahun-tahun berikutnya, dan menjadi sebuah "siklus"

Bullying tidak hanya terjadi antara senior maupun Junior, Bullying juga dapat terjadi di kalangan mereka yang sebaya seperti penjulukan, ejekan berulang, sebutan rasis, ancaman. Sering kita mendengar para pelajar memanggil teman mereka dengan sebutan yang "akrab" tetapi jarang kita tanya balik apakah dia senang dengan pangiilan itu, hal ini bisa merupakan tindakan Bullying secara verbal/ kata- kata. Sebagian orang tidak suka dipanggil dengan julukan yang merujuk ke fisik seperti ukuran badan, warna kulit, suku, nama orangtua,dan yang lainnya. Bahkan seiring berkembangnya teknologi, muncullah istilah CYBER BULLYING : pesan negatif lewat sms, media sosial, voice mail, ancaman telepon. Sedangkan contoh bullying yang tidak langsung : penyebaran fitnah/ rumor, gesture yang meremehkan, tatapan sinis, dan mengatakan petisi kebencian

Mengapa Korban bullying banyak yang tidak melapor?
1.  Korban "diajarkan untuk tidak mengadu
2. Sebagian besar korban belajar dari pengalaman bahwa tidak semua orang dewasa peduli tentang apa yang mereka alami
3. Korban takut mempeburuk keadaan dengan melapor , karena adanya ancaman dari pelaku
4.  Korban merasa rendah diri dan malu
5.  Adanya perasaan dari pihak korban bahwa hal ini harus dihadapi sendiri
6.  Korban TIDAK TAHU harus meminta bantuan kepada siapa

PENDAPAT SAYA :
Jadilah pribadi yang baik dalam bersosialisasi dengan orang lain, tanamkan nilai moral pada diri sendiri dan tunjukan moral tersebut pada masyarakat. Hapuskan sistem bullying yang terdapat pada pergaulan, dan bentuk karakter diri sendiri melalui panutan yang benar dan jadilah masyarakat yang berguna di masa mendatang.

KEMISKINAN di IBU KOTA






Kemiskinan memang adalah pekerjaan besar bagi pemerintah kita, tapi pekerjaan itu tidak pernah di prioritaskan untuk mengurangi angka kemiskinan, berbagi cara telah di lakukan tapi malah tidak dapat mengurus permasalahan ini.

Kemiskinan merupakan masalah yang ditandai oleh berbagai hal antara lain rendahnya kualitas hidup penduduk, terbatasnya kecukupan dan mutu pangan, terbatasnya dan rendahnya mutu layanan kesehatan, gizi anak, dan rendahnya mutu layanan pendidikan. Selama ini berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi kemiskinan melalui penyediaan kebutuhan pangan, layanan kesehatan dan pendidikan, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya.

Berbagai upaya tersebut telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin dari 54,2 juta (40.1%) pada tahun 1976 menjadi 22,5 juta (11.3%) pada tahun 1996. Namun, dengan terjadinya krisis ekonomi sejak Juli 1997 dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami pada Desember 2004 membawa dampak negatif bagi kehidupan masyarakat, yaitu melemahnya kegiatan ekonomi, memburuknya pelayanan kesehatan dan pendidikan, memburuknya kondisi sarana umum sehingga mengakibatkan bertambahnya jumlah penduduk miskin menjadi 47,9 juta (23.4%) pada tahun 1999. 

Kemudian pada 5 tahun terakhir terlihat penurunan tingkat kemiskinan secara terus menerus dan perlahan-lahan sampai mencapai 36,1 juta (16.7%) di tahun 2004.
Pemecahan masalah kemiskinan memerlukan langkah-langkah dan program yang dirancang secara khusus dan terpadu oleh pemerintah dan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

Faktor Penyebab Kemiskinan
Ternyata kemiskinan itu tidak terjadi begitu saja melainkan memiliki faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kemiskinan. Adapun faktor-faktor penyebab terjadinya kemiskinan dapat dikategorikan dalam beberapa hal berikut ini : 

          A.     Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita secara global.
Yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa standar pendapatan per-kapita bergerak seimbang dengan produktivitas yang ada pada suatu sistem. Jikalau produktivitas berangsur meningkat maka pendapatan per-kapita pun akan naik. Begitu pula sebaliknya, seandainya produktivitas menyusut maka pendapatan per-kapita akan turun beriringan. Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kemerosotan standar perkembangan pendapatan per-kapita:
1)       Naiknya standar perkembangan suatu daerah.
2)       Politik ekonomi yang tidak sehat.
3)       Faktor-faktor luar negeri, diantaranya:
4)       Rusaknya syarat-syarat perdagangan
5)       Beban hutang
6)       Kurangnya bantuan luar negeri, dan Perang 

B.     Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
Faktor ini sangat penting dalam pengaruhnya terhadap kemiskinan. Oleh karena itu,
untuk menaikkan etos kerja dan produktivitas masyarakat harus didukung dengan
SDA dan SDM yang bagus, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang bisa
dipertanggung jawabkan dengan maksimal. 

C.     Biaya kehidupan yang tinggi.
Melonjak tingginya biaya kehidupan di suatu daerah adalah sebagai akibat dari tidak adanya keseimbangan pendapatan atau gaji masyarakat. Tentunya kemiskinan adalah konsekuensi logis dari realita di atas. Hal ini bisa disebabkan oleh karena kurangnya tenaga kerja ahli dan banyaknya pengangguran. 

D.     Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
Hal ini selain menyulitkan akan terpenuhinya kebutuhan pokok dan jaminan keamanan untuk para warga miskin, juga secara tidak langsung mematikan sumber pemasukan warga. Bahkan di sisi lain rakyat miskin masih terbebani oleh pajak negara.

sumber : http://joents.blogspot.com/2012/04/makalah-tentang-kemiskinan.html

PENDAPAT SAYA :
Pemerintah harus bekerja keras menciptakan lapangan pekerjaan yang luas untuk masyarakat, namun bukan hanya pemerintah yang harus bekerja dalam persoalan kemisikinan. Harus hadirnya juga sosok dari masyarakat yang mencoba agar dapat pekerjaan yang layak. Pendidikan adalah hal nomer satu untuk membrantas kemiskinan di Indonesia. Pemerintah sudah menggratiskan sekolah sampai selesai SMA, harusnya masyarakat kurang mampu memanfaatkannya. Agar mereka mempunyai SDM yang standart untuk diterima di dunia kerja.